Headlines News :
Home » » Cerita Hot - Petualangan si badut hitam

Cerita Hot - Petualangan si badut hitam

Written By Ariez Marinecyber on Minggu, 30 Desember 2012 | 12/30/2012 08:09:00 PM

Nama julukanku Badut. Setidaknya begitulah aku dikenal di kampus dan lingkungan pergaulanku. Tinggi 177 cm, berat 72 kg. bajuku nomor 16 dan celana nomor 32. Sedangkan kakiku memakai sepatu nomor 44 (10,5). Wajah lumayan, teman teman bilang tipe agak keras dan konyol. Hidung terhitung mancung Dan bibir tebal. Kelakuan agak eksentrik, suka melucu sehingga dipanggil badut. Berkulit sawo matang yang terbakar hingga hitam legam, jadilah nama lengkapku Badut Hitam. Postur tubuh agak kurus namun berotot kencang.

Kelebihanku di bidang sport. Menonjol di kemampuan atletis secara alami. Sejak SMA jadi pemain bola voli, pernah ikut latihan tinju dan gulat. Stamina bagus, sering lari marathon puluhan kilometer.
Keahlianku yang lain adalah wanita. Kelemahanku utama juga wanita. Mudah jatuh hati dan mendapatkan, mudah pula bosan dan kehilangan pasangan. Itu sebabnya hingga saat ini membujang tanpa pasangan tetap.

Kisah petualanganku ini berlangsung saat masih kuliah. Selain di kegiatan olahraga, aku juga aktif di perkumpulan pecinta alam dan berkegiatan di alam bebas.

Pada perkumpulan itulah aku bertemu Winky, wanita cantik jelita berdarah Chinese-Perancis. Kisah ini mengenai percintaan kami. Salah satu kisah petualangan cintaku yang paling berpengaruh.

Wajahnya cantik, oval dan berkulit putih mulus. Mata lebar berjarak sedang. Hidungnya mungil dan mancung. Bibirnya mungil, namun bibir bawahnya agak tebal, penuh dan berisi. Merah secara natural. Tingginya sekitar 165, dada 36+, beratnya tidak tahu persis tapi tubuhnya sangat proporsional. Kakinya panjang, jenjang dan ramping. Pahanya berisi, betis ramping mulus. Kulitnya seputih susu. Yang paling istimewa dari tubuhnya adalah bentuk pinggul dan pantat yang berotot menonjol. Cetakan bentuk tubuhnya jelas terlihat karena ia gemar mengenakan celana jeans yang memperlihatkan bentuk kaki indah serta lekukan artistik di pinggul dan pantatnya.

T-shirt longgar adalah baju tetapnya, tak peduli kesempatan apapun. Ia gadis yang selalu ceria dan gembira. Selalu punya cara untuk membuat dirinya dan orang-orang di sekitarnya menikmati kegembiraan bersama. Sangat menyukai kebebasan, berani, tegas dan cerdas. Kadang-kadang BH yang digunakannya terlalu tipis sehingga samar-samar memperlihatkan bentuk puting susunya yang besar menonjol. Jika ia duduk, lipatan celana jeans di selangkangannya memperlihatkan sebentuk tonjolan yang mengagumkan, memaksa mata lelaki yang melihatnya membayangkan benda di baliknya.
Junior hingga high school dijalaninya di Eropa. Kepindahannya ke kotaku karena mengikuti tugas orangtuanya. Winky menguasai beberapa bahasa. Sikapnya yang percaya diri dan tegas membuatnya berwibawa sehingga teman-teman pria agak segan padanya. Aku tidak pernah memperlihatkan segan atau takut padanya. Ia pun begitu padaku.
Winky berteman dengan Tia, mantan pacarku yang baru putus denganku beberapa bulan lalu. Aku tahu bahwa ia pernah menilaiku begini : “Dia laki-laki jelek tak berguna. Konyol dan hanya bisa melucu, lebih dari itu tak ada apa-apanya.”

Tia menjawab “You’ll never know until you spend a long and wild night with him”
Tia menyampaikan itu padaku. Hingga saat itu sebenarnya aku tidak terlalu memperhatikan keberadaan Winky, tetapi apa yang disampaikan Tia cukup menggangguku.
Tak berapa lama hal itu terlupakan, hingga akhirnya muncul lagi beberapa hari yang lalu ketika teman-teman pecinta alam memberitahuku rencana kegiatan di gunung Arpatea yang terkenal berhutan lebat dan dinginnya menusuk tulang. Aku ditugaskan menjadi instruktur jungle survival dan pelatih fisik. Yang menarik perhatianku adalah pembicaraan teman-teman mengenai adanya beberapa cewek cantik yang bergabung. Biasalah itu, namun saat mereka menyebut nama Winky mau tak mau aku menaruh perhatian juga.

DI GUNUNG ARPATEA, HARI PERTAMA
Suasana pagi itu sangat dingin dan berkabut. Seperti biasanya di kawasan pegunungan hutan tropis Arpatea disiram hujan sejak subuh dan biasanya berakhir pagi hari. Kami sedang menikmati kopi panas dan makan pagi ketika terdengar pengumuman bahwa tepat pukul 6 pagi, lima belas menit lagi, apel umum dimulai.

Setelah menikmati rokok, terdengar bunyi lonceng apel. Aku bergegas ke lapangan. Apel ini dilaksanakan untuk memeriksa keberadaan seluruh peserta dan kesiapan mereka.
Pada kegiatan ini, sebagai instruktur, aku dan teman-teman panitia tidur di sebuah tenda besar berkapasitas 20 orang. Winky dan seluruh peserta lainnya tidur di 2 buah tenda
peleton berkapasitas 30-an orang.

Pagi itu aku mencari-cari wajah Winky, rupanya ia tahu. Pada saat kami bertemu pandang, aku mengangguk tersenyum, ia membuang muka.
Hari itu kegiatan berupa orientasi lapangan dan pengenalan medan sampai sore hari. Dilanjutkan diskusi lapangan hingga jelang makan malam. Baik peserta atau panitia kelelahan.
Sepanjang hari itu aku belum mendekati Winky, tak ada alasan tepat untuk melakukannya. Ia akan menjauh jika terlalu kupaksakan.

Namun menjelang tengah malam, peruntunganku berubah. Kami mendengar teriakan minta tolong dari tenda peserta. Malam itu aku bertugas piket bersama panitia wanita bernama Yuni.
Bergegas kami mendatangi tenda peserta wanita, ternyata seorang peserta mengalami kram kaki dan perut. Tempatnya berada tepat di sebelah Winky.

“Ada apa?” tanyaku.
Yang menjawab Winky “Keram kaki dan perutnya, Kak”
Kemudian Yuni menolongnya. Setelah memberikan pertolongan, aku menyarankan agar peserta itu dibawa ke tenda kesehatan agar lebih hangat dan bisa beristirahat dengan tenang.
“Kami perlu satu orang untuk menjaganya” ujar Yuni.
“Aku saja” kata Winky cepat.

Aku terkejut juga. Mulai sirna penilaianku sebelumnya yang mencap Winky sombong dan egois.
Di tenda kesehatan kami semua berdiam diri. Yuni mulai terkantuk-kantuk, setelah menilai keadaan si sakit telah aman, ia lalu minta agar aku lanjut jaga karena ia mau tidur dulu.
“Dut, aku mau tidur dulu. Kamu gantikan aku di sini ya?” ujarnya sambil berlalu tanpa menunggu jawabanku karena ia tahu pasti aku bersedia.

Tinggallah di teras tenda kesehatan itu aku, Winky dan si sakit yang telah tertidur pulas di dalam sleeping bag-nya.
Masing-masing kami berdiam diri. Aku melihat jam, pukul 12 tengah malam. Berarti sekitar satu jam kami hanya membisu. Hening. Hawa malam itu dingin sekali. Kabut tebal telah menyelimuti kawasan camping ground. Aku berinisiatif membuat api unggun kecil.
Tiba-tiba ia berkata “Kenapa kamu mau dipanggil Badut. Itu kan menghina?”
“Tak apalah. Aku kan memang jelek dan tak berguna. Setidaknya begitu yang kau katakan pada Tia kan?” jawabku acuh.
“Lalu kenapa?” ujarnya ketus.
“Kamu memang keterlaluan dan terlalu mudah menghakimi orang lain” ujarku. Ia diam, lalu agak kasar aku menambahkan “Pantas saja cewek secantik kamu belum punya pacar, benarkan? Mana ada laki-laki mau mendekati jika sikapmu terus begitu”
“Itu urusanku, none of your business!” katanya.
“OK. Lady, so then you’d better live alone in your own planet. Enjoy your loneliness” ujarku mau beranjak meninggalkannya.
Wajahnya terlihat menegang seperti mau marah, tapi ucapan yang keluar dari mulutnya hanya “Maaf” lalu ketegangan di wajahnya mengendur. Sudut matanya berair. “Aku tak bermaksud seperti itu” lanjutnya lirih.
Aku agak terkejut melihat reaksinya. Aku keterlaluan juga pikirku dalam hati. Rupanya ucapanku yang terakhir benar-benar menusuk hatinya, tepat pada permasalahan pribadinya.
Dia diam. Beberapa saat hening. Aku salah tingkah. Kudekati Winky dan memberanikan diri memegang tangannya dengan sikap minta maaf dan bersahabat, “Maaf” kataku. Ia menjawab dengan anggukan dan tersenyum sedikit. Winky membalas remasan tanganku.
Lalu Winky bercerita mengenai betapa kesepiannya dia. Menurut penilaianku, yang dialaminya adalah culture shock, kesenjangan dan tabrakan antara budaya beserta norma dan nilai yang dianutnya sesuai tempatnya dibesarkan dengan dunianya sekarang di kotaku. Ternyata sikap cerianya adalah kompensasi belaka, outlet perasaan, curahan ketidakseimbangan antara keinginan dankenyataan yang harus dihadapinya. Aku mengemukakan pandangan dan saran-saranku padanya dan menyatakan bersedia jadi sahabatnya.
Pandangan mata kami bertemu, tiba tiba suasana menjadi romantis. Tangan kami masih berpegangan, nekat kukecup pipinya. Winky berpaling ke arahku menghadapkan bibirnya. Segera kucium lagi bibirnya, ia membalas kalem. Aku jadi lebih panas mengulumi bibirnya. Winky terpengaruh, mulai memainkan lidahnya. Ciuman kami memanas, nempel terus hingga sekitar 10 menit tanpa henti.
Beberapa saat kemudian, Winky seperti tersadar lalu mendorong dada dan wajahku darinya. “Remember, we’re friends, not lovers” ujarnya.

“Promise you. I know, we’re friends and lovers” ujarku tegas lalu menarik bahunya dan mengulangi ciumanku padanya. Kali ini ia membalas dan ciuman kami memanas lagi. Hingga kemudian kami hampir kehabisan nafas, tanpa kami sadari pelukan kami mengetat.

Satu dua kali payudaranya tersentuh tak sengaja namun berpengaruh besar pada Winky. Aku semakin berani dan mulai menyentuhnyanya dari luar. Lalu ke dalamnya. Putingnya yang biasanya hanya terlihat samar dari luar kini kuusap-usap halus. Payudaranya mengeras, putingnya membesar, degup jantungku dan dia berdebar tak keruan. Remasanku semakin intensif dan melebar.

Muncul doronganku untuk mengecup puting susu dan payudaranya. Bentuknya sempurna, putih mulus, bulat dan kencang. Winky bersandar di pahaku, tak sengaja sikutnya mengenai batang penisku yang telah keras sejak tadi. Wingky menyadarinya dan malah menyentuhnya lembut. Tangannya bergerak meremas dan menggosok pelan. Kakiku seperti kesemutan saking nikmatnya. Tanganku mulai menelusuri bagian dalam jahitan celana jeansnya hingga di selangkangannya kutekan berulang-ulang. Naik sedikit, sekarang kancing celananya sudah terbuka, tanganku pelan-pelan menyusup ke dalam. Kusentuh celana dalamnya.

G-stringnya kugeser kesamping, terasa gumpalan bulu lebat di dalamnya. Aku menengok sebentar, pahanya putih mulus, kontras dengan tangan hitamku di atasnya. Lalu tanpa kesulitan kutemukan sebentuk liang basah dan klentitnya yang sudah mulai mekar mengembang karena terangsang. Kucari-cari g-spotnya, tanpa kesulitan kutemukan dan mulai kususupkan jari sambil mencoba-coba. Ternyata tempat yang kusentuh di dalam bagian atas vaginanya tepat mengenai g-spot. Terbukti dari desahannya dan gerakan pinggulnya yang bergoyang-goyang semakin hebat. Jari-jariku sudah keluar masuk vaginanya. Semakin basah dan terangsang hebat, lalu kurasakan pahanya menegang. Semakin lincah pula tanganku bergerak di selangkangannya. Lalu dua kali berturut-turut Winky orgasme dengan desah tertahan sembari menggigit biseps lenganku.

Winky berusaha membalasku dengan blowjobnya. Aku menolak. Ia hanya mengecup bagian ujung penisku yang kebetulan agak menyembul dari celana dalam. Aku mengerti dan ia tahu keadaan kurang memungkinkan.
Namun Winky tidak menyerah begitu saja. Ia bangkit berdiri lalu menarikku ke pepohonan, beberapa meter di belakang tenda kesehatan.
Gelap dan dingin. Kami berciuman sebentar, lalu dipelorotkannya celanaku. Batang penisku segera menyembul keluar. Tegak mengarah ke wajahnya, di sisi hidungnya yang mancung mungil.
Tanpa buang waktu lagi dikecupnya bagian ujung, perlahan-lahan dikulumnya mulai bagian ujung hingga ke pangkal. Dari sekilas cahaya terlihat wajahnya putih bersih dan bibir merah muda itu menerima batang penisku yang hitam dan berurat-urat menonjol, masuk ke dalam mulutnya yang lembut dan wangi. Ujung penisku terasa menjangkau tenggorokannya. Lidah Winky berputar-putar di sekeliling batang penisku, membuat sensasiku memuncak hingga tak sengaja kujambak rambutnya. Winky tersenyum puas melihat reaksiku.

Ia berdiri, kutarik dan kubalik badannya. Doggy style dengan berdiri. Winky mengerti lalu agak membungkuk dan menurunkan celananya. Perlahan-lahan kami bekerjasama. Ia membuka selangkangan dan mengarahkan penisku menuju vaginanya, aku mendorong pelan dan memutar-mutarnya di bibir vagina. Lalu menggosokkannya di klitoris. Winky terangsang, liangnya basah. Ia kegelian, gemas dan mau menjerit, tapi cepat ia menutup mulutnya. Terdengar desah dan jerit tertahan ketika aku memasuki tubuhnya dengan sedikit sentakan pelan tapi kuat.
Lalu sentakan, tarikan dan usapan-usapan berlangsung berulang-ulang. Pelan-pelan, lalu cepat, masuk penuh lalu cabut semuanya. Masuk lagi sepenuhnya, kami sungguh menikmati permainan di bawah pohon gelap dan dingin itu. Winky berulang kali orgasme dan setelah itu kami mencapai klimaks bersama-sama.

Tanpa disadari sekitar 2 jam kami bercinta. Kira-kira jam 3 pagi, ia kuantar tidur di dalam tenda kesehatan. Aku tertidur pulas dan puas di halaman tenda. Aku harus sempatkan diri beristirahat ujarku dalam hati. Pagi nanti masih ada kegiatan
Share this article :

Pengikut

my Twitter

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. World zone - DUNIA XXX - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger